Google+ Followers

Woensdag, 22 Januarie 2014

MAKALAH[1] KARAKTERISTIK, PERKEMBANGAN DAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK TUNAGRAHITA



MAKALAH[1]
KARAKTERISTIK, PERKEMBANGAN DAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK TUNAGRAHITA

Dewi Yanti (1105466)
Yuda Ferdian (1105345)[2]

Abstrak. Ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual yang secara jelas berada di bawah rata-rata atau normal disertai dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian dan terjadi dalam periode perkembangan. Batasan tersebut dengan jelas menekankan signifikan dalam penyimpangan, artinya apabila keterlambatan intelektual itu hanya sedikit saja di bawah normal maka anak tersebut tidak termasuk tunagrahita.“Keterhambatan itu harus jelas sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan khusus”. Dari batasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam memandang seseorang individu termasuk tunagrahita atau tidak minimal harus memiliki 3 komponen yaitu: kecerdasan di bawah rata-rata, kesulitan dalam perilaku adaptif dan terjadi dalam masa perkembangan.Dengan demikian jelaslah bahwa individu dikatakan tunagrahita apabila memiliki indikator-indikator yang jelas dapat dipertanggungjawabkan, sehingga mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Kata Kunci : Anak Berkebutuhan Khusus, Tunagrahita.

A.           PENDAHULUAN
1.        Latar Belakang
Pelaksanaan pendidikan di beberapa sekolah khususnya sekolah luar biasa belum dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan anak, masalah, dan kemampuan anak. Guru cenderung hanya mengejar keterlaksanaan apa yang ditargetkan dalam kurikulum semata. Padahal, cirri khas dalam penyelenggaraan pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah selalu berorientasi pada kebutuhan anak. Layanan pendidikan lebih ditekankan kepada layanan individual. Hal ini dikarenakan kebutuhan dan kemampuan setiap anak berbeda- beda. Layanan pendidikan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan, masalah, dan kemampuan anak.
Dalam upaya memahami masalah dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus, seorang guru  membutuhkan data yang akurat berkenaan dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi setiap anak didiknya. Untuk dapat menggali data dan informasi tentang kebutuhan dari masalah yang dihadapi anak, Mahasiswa khususnya calon pendidik dapat melakukannya melalui kegiatan yang disebut Observasi dan Wawancara. Observasi dan Wawancara dapat dipandang sebagai suatu upaya pengumpulan informasi yang akan digunakan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang berhubungan dengan anak. Untuk itu, Observasi dan Wawancara sangat penting untuk dipergunakan sebagai bahan untuk mngumpulkan informasi informasi yang berkenaan dengan ABK untuk kepentingan belajar dan mengajar di sekolah khususnya di kelas inklusi.  

2.        Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah ini adalah sebagai berikut :
a.         Bagaimana cara mendidik Anak Tunagrahita di Sekolah ?
b.        Bagaimana klasifikasi Anak Tunagrahita ?
c.         Bagaimana karakteristik Anak Tunagrahita ?
d.        Apa Faktor penyebab Tunagrahita?
e.         Bagaimana Pendidikan untuk Anak Tunagrahita

3.        Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.         Untuk melengkapi tugas mata kuliah Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus
b.        Untuk mengetahui bagaimana karakteristik Anak Tunagrahita
c.         Untuk mengetahui gambaran bagaimana  cara mendidik  dan mengajar anak Tunagrahita di Sekolah
d.        Untuk memberikan informasi kepada para pembaca bagaimana keadaan fisik maupun mental serta penyebab ketunaan pada anak berkebutuhan khusus, khususnya pada Anak penderita Tunagrahita

4.        Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
a.         Bisa mempelajari dan mengetahui cara mendidik dan mengajarkan Anak Tunagrahita
b.        Bisa mengetahui karakteristik dan pendidikan Anak-Anak Tunagrahita
c.         Memperdalam pengetahuan kita tentang Anak Tunagrahita

5.        Pelaksanaan Observasi
Tempat            : SDN Cisalak 3
Alamat            : Depok, Jawa Barat
Hari/ tanggal   : Jum’at / 15 November 2013
Waktu             : Pukul 07.30 s/d 11.00 WIB

6.        Metode
a.         Observasi
Dengan melakukan pengamatan-pengamatan terhadap anak saat  proses pembelajaran di sekolah dan juga contoh- contoh hasil pekerjaan anak.
b.        Wawancara
Dengan mewawancarai kepala seklah, guru dan orang tua.
c.         Angket
Instrumen angket untuk memberikan daftar check list pada pertanyaan- pertanyaan yang ada yang berkaitan dengan konsisi peserta didik, guru dan sekolah.

7.        Sumber data
Sumber data yang diperoleh berasal dari Sumber Data Primer dan Sumber Data Sekunder, Adapun Sumber Data Primer dan Sumber Data Sekunder yaitu sebagai berikut :
a.    Sumber Data Primer :
Data yang di peroleh yaitu dari wawancara dengan Bpk. Dani Kurniadi (Kepala Sekolah), Bpk. Supriono (Guru) dan Ibu Nurosidah (Orang Tua Murid)
b.    Sumber Data Sekunder :
Selain dari metode wawancara, data yang di peroleh di ambil dari jurnal yang di ambil dari internet,dan buku mengenai Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ).

B.            KAJIAN KONSEP
1.        Pengertian Tunagrahita
Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata (Somantri, 2006). Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut: Lemah pikiran (Feeble Minded), Terbelakang mental (Mentally Retarded), Bodoh atau dungu (Idiot), Pandir (Imbecile), Tolol (Moron), Oligofrenia (Oligophrenia), Mampu Didik (Educable), Mampu Latih (Trainable), Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau butuh rawat, Mental Subnormal, Defisit Mental, Defisit Kognitif, Cacat Mental, Defisiensi Mental, Gangguan Intelektual.
Pengertian Tunagrahita menurut American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM, (p. 20) sebagai berikut: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul sebelum usia 16 tahun; yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. (wikipedia, 2013)
Tunagrahita ialah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Pengertian lain mengenai tunagrahita ialah cacat ganda. Seseorang yang mempunyai kelainan mental, atau tingkah laku akibat kecerdasan yang terganggu(Lala, 2011).Istilah cacat ganda yang digunakan karena adanya cacat mental yang dibarengi dengan cacat fisik. Misalnya cacat intelegensi yang mereka alami disertai dengan keterbelakangan penglihatan (cacat mata).Ada juga yang disertai dengan gangguan pendengaran. Namun, tidak semua anak tunagrahita memiliki cacat fisik.Contohnya pada tunagrahita ringan. Masalah tunagrahita ringan lebih banyak pada kemampuan  daya tangkap yang kurang. Secara global pengertian tunagrahita ialah anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan dalam intelegensi, fisik, emosional, dan sosial yang membutuhkan perlakuan khusus supaya dapat berkembang pada kemampuan yang maksimal.

2.        Klasifikasi Anak Tunagrahita
Berbagai macam cara digunakan oleh para ahli dalam mengklasifikasikan anak tunagrahita. Berikut ini Efendi (2006: 89-90) dalam bukunya mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut: Seorang dokter dalam mengklasifikasikan anak tunagrahita didasarkan pada tipe kelainan fisiknya, seperti tipe mongoloid, microcephalon, cretinism, dan lain-lain. Seorang pekerja sosial mengklasifikasikan anak tunagrahita didasarkan pada derajat kemampuan penyesuaian diri atau ketidak tergantungan pada orang lain, sehingga untuk menentukan berat ringannya ketunagrahitaan dilihat dari tingkat penyesuaiannya, seperti tidak tergantung, semi tergantung, atau sama sekali tergantung pada orang lain.
Klasifikasi anak tunagrahita dapat di bagi dalam bentuk yang lebih sederhana, yaitu sebagi berikut:
a.         IQ kurang dari 80-100 = lemah berpikir.
b.        IQ antara 60-80 = debil
c.         IQ antara 20-60 = imbisil
d.        IQ di bawah dari 20 = idiot (Widati dan Murtadlo, 2007: 266).
Klasifikasi anak tunagrahita juga dijelaskan oleh Astuti dan Walentiningsih (2011: 30-31) dalam bukunya yaitu terbagi menjadi tiga yakni tunagrahita ringan, tunagrahita sedang, dan tunagrahita berat. Dari tiga klasifikasi tersebut mempunyai karakterisik masing-masing yaitu:
a.         Tunagrahita ringan:
·           Tunagrahita ringan disebut juga maron atau debil.
·           Memiliki IQ antara 68-52 atau 69-55.
·           Mampu belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana.
·           Mampu dididik menjadi tenaga kerja semi-skilled seperti pekerja laundry pertanian, peternakan, pekerjaan rumah tangga, dan pekerja pabrik dengan sedikit pengawasan.
·           Pada umumnya tidak mengalami gangguan fisik (tampak seperti anak normal).
·           Pada usia 16 tahun tingkat kecerdasannya sama dengan anak kelas tiga/ lima SD
·           Kematangan belajar membaca dicapai padausia 9 sampai dengan 12 tahun.
b.        Tunagrahita sedang:
·           Tunagrahita sedang disebut juga imbesil.
·           Memiliki IQ antara 51-36 atau 54-40.
·           Mampu mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya. Seperti menghindari kebakaran, berjalan di jalan raya, berlindung dari hujan, dll.
·           Sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Namun, bisa diatasi dengan latihan setiap hari.
·           Mampu menulis secara sosial, misalnya menuliskan nama sendiri dan alamat rumah
·           Membutuhksn pengawasan yang terus menerus.
·           Dapat bekerja di tempat kerja terlindung.
c.    Tunagrahita berat:
·           Tunagrahita berat sering disebut idiot.
·           Memiliki IQ antara 33-22 atau 39-25.
·           Tergantung pada orang lain.
·           Tidak mengenali bahaya.
·           Selalu tidak mampu mengurus diri sendiri.
·           Memerlukan perawatan secara total dalam kehidupan sehari-hari. Memerlukan perlindungan dari bahaya sepanjang hidupnya.
·           Tingkat kecerdasannya setara dengan anak usia 4 tahun.

3.        Faktor Penyebab Tunagrahita
(Ratri, 2012) Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tunagrahita. Beberapa ahli membagi faktor-faktor penyebab ini menjadi beberapa kelompok. Strauss mengelompokkan faktor-faktor tersebut menjadi dua gugus, yaitu endogen dan eksogen.Suatu faktor dimasukkan dalam gugus endogen jika letaknya pada sel keturunan, sedangkan yang termasuk ke dalam faktor eksogen adalah hal-hal di luar faktor keturunan, misalnya infeksi dan virus yang menyerang otak, benturan, radiasi, dsb.
Kalangan lain membagi dalam 2 faktor, yaitu faktor lingkungan dan faktor individu. Cara lain yang juga sering digunakan dalam pengelompokkan faktor-faktor penyebab ketunagrahitaan adalah membaginya dalam 3 gugus, jika disusun secara kronologis adalah : (1) faktor yang terjadi sebelum anak lahir (prenatal), (2) faktor yang terjadi saat dilahirkan (natal atau perinatal), dan (3) faktor yang terjadi sesudah dilahirkan (postnatal). Istilah prenatal, natal, dan postnatal bukanlah penyebab, melainkan waktu terjadinya penyebab. Berikut adalah faktor penyebab ketunnagrahitaan :
a.         Faktor Keturunan
Faktor keturunan terdapat pada sel khusus yang pada pria disebut spermatozoa dan pada wanita disebut sel telur (ovarium).
1)        Mengenal Kromosom
Dalam inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom, yang terdiri atas 22 pasang autosom yang tidak menentukan jenis kelamin dan satu pasang gonosom yang menentukan jenis kelamin (laki-laki XY, wanita XX). Kelainan-kelainan dapat terjadi baik pada kromosom maupun pada gene.
2)        Kelainan Kromosom
Kelainan kromosom dapat dilihat baik dari bentuk maupun dari nomornya. Dilihat dari bentuknya, kelainan kromosom dapat  berupa: (1) inversi, (2) delesi, (3) duplikasi, dan (4) translokasi. Inversi ialah kelainan yang mengakibatkan berubahnya urutan gene karena melilitnya kromosom. Delesi merupakan akibat dari kegagalan meiosis yang salah satu pasangan tidak membelah sehingga mengakibatkan kurangnya kromosom tersebut di salah satu sel. Duplikasi juga merupakan kegagalan meiosis yaitu akibat kromosom tidak berhasil menceraikan diri sehingga terdapat kelebihan kromosom pada sel yang lain. Sedangkan translokasi, terjadi karena adanya kromosom yang patah, lalu patahannya menempel pada kromosom yang lain.
3)        Gangguan Metabolisme dan Gizi
Kegagalan dalam metabolisme dan kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan akan gizi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fisik maupun mental pada individu. Berikut adalah gangguan nyang disebabkan kegagalan metabolisme dan kekurangan gizi,
4)        Infeksi dan Keracunan
Penyebab ketunagrahitaan adalah adanya adanya infeksi dan keracunan yaitu terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin masih berada di dalam kandungan ibunya. Penyakit-penyakit tersebut adalah : Rubella, Syphilis Bawaan dan Syndrome Gravidity Beracun
5)        Trauma dan Zat Radioaktif
Janin yang terkena zat radioaktif setelah tiga bulan kehamilan mengakibatkan bayi menderita microcephaly dan tunagrahita disertai dengan ketidaknormalan pada kulit, serta kelainan organ visual.
6)        Masalah Pada Kelahiran
Kelainan dapat juga disebabkan oleh masalah yang terjadi pada waktu kelahiran, misal kelahiran yang disertai hypoxia dapat dipastikan bahwa bayi yang dilahirkan menderita kerusakan otak, menderita kejang, nafas yang pendek.


7)        Faktor Lingkungan (Sosial Budaya)
Permasalahan  yang berasal dari faktor lingkungan bermacam-macam, seperti kegagalan dalam melaksanakan interaksi yang terjadi selama periode perkembangan, tingkat soosial ekonomi rendah, latar belakang pendidikan orang tua, masalah afeksi (kasih sayang), serta kurangnya kontak pribadi dengan anak.
Anak tunagrahita adalah anak yang mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata.Anak tunagrahita memiliki keterbatasan intelegensi, terutama yang bersifat abstrak seperti belajar dan berhitung, menulis dan membaca. Kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian atau cenderung belajar dengan membeo.Disamping memiliki keterbatasan intelegensi, anak tunagrahita juga memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat.Selain itu, juga memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa.

4.        Karakteristik Anak Tunagrahita
          Depdiknas (2003) mengemukakan bahwa karakteristik anak tunagrahita yaitu penampilan fisik tidak seimbang, tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai dengan usianya, perkembangan bicara/bahasanya terhambat, kurang perhatian pada lingkungan, koordinasi gerakannya kurang dan sering mengeluarkan ludah tanpa sadar. Selain itu ada beberapa pendapat dari orang ahli dari seluruh dunia, yaitu:
a.    James D Page yang dikutip oleh Suhaeri H.N (Amin: 1995) menguraikan karakteristik anak tunagrahita sebagai berikut:
1)      Kecerdasan. Kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan cara membeo (rote-learning) bukan dengan pengertian.
2)      Sosial. Dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara, dan memimpin diri. Ketika masih kanak-kanak mereka harus dibantu terus menerus, disingkirkan dari bahaya, dan diawasi waktu bermain dengan anak lain.
3)      Fungsi-fungsi mental lain. Mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, pelupa dan sukar mengungkapkan kembali suatu ingatan. Mereka menghindari berpikir, kurang mampu membuat asosiasi dan sukar membuat kreasi baru.
4)      Dorongan dan emosi. Perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing. Kehidupan emosinya lemah, mereka jarang menghayati perasaan bangga, tanggung jawab dan hak sosial.
5)      Organisme. Struktur dan fungsi organisme pada anak tunagrahita umumnya kurang dari anak normal. Dapat berjalan dan berbicara diusia yang lebih tua dari anak normal. Sikap dan gerakannya kurang indah, bahkan di antaranya banyak yang mengalami cacat bicara.
b.    Menurut The American Association on Mental Deficiency (AAMD, 1983):
          Bahwa seseorang anak dikategorikan tunagrahita apabila memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: (1) fungsi intelektual umum (kecerdasannya) di bawah rata-rata secara sigifican (jelas, nyata), ditafsirkan mempunyai tingkat kecerdasan (IQ) 70 atau di bawahnya, (2) mengalami hambatan dalam daptasi tingkah laku sesuai tuntutan budaya dimana ia tiinggal, dan (3) terjadinya selama periode perkembangan mental, yaitu sampai usia kronologis 18 tahun. Dengan demikian, jika anak itu tidak memiliki ketiga karakteristik tersebut atau hanya kurang sedikit dari anak lain yang normal, maka tidak termasuk tunagrahita.
c.    Menurut AAMR (1992):
          Tunagrahita merujuk kepada fungsi intelektual umum yang berada di bawah rata-rata secara signifikan (merujuk kepada hasil tes inteligensi individu, berarti skor IQ dua standard deviasi atau lebih di bawah rata-rata) yang berkaitan dengan hambatan dalam perilaku adaptif (merujuk kepada: derajat dimana terpenuhi standard individu dari independensi personal dan respansibilitas sosial yang diharapkan dari umur dan kelompok budaya, atau merujuk kepada 10 keterampilan adaptif, yaitu: komunikasi, merawat diri, kehidupan keseharian, keterampilan sosial, penggunaan komunitas, pengarahan diri, kesehatan dan keamanan, akademik fungsional, waktu luang, dan karya) yang terjadi selama periode perkembangan (dari lahir sampai usia 18 atau 22 tahun). (Rianto, 2012).

5.        Pendidikan Dan Layanan Bagi Anak Tunagrahita
          Anak tunagrahita sangat memerlukan pendidikan serta layanan khusus yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Ada beberapa pendidikan dan layanan khusus yang disediakan untuk anak tunagrahita, yaitu:


a.         Kelas Transisi
          Kelas ini diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak tunagrahita. Kelas transisi sedapat mungkin berada disekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
b.        Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C,C1)
          Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus.Untuk anak tunagrahita ringan dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah di SLB-C1.
c.         Pendidikan terpadu
Layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak tunagrahita akan mendapat bimbingan/remedial dari Guru Pembimbing Khusus (GPK) dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita ringan, yang termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan lamban belajar (Slow Learner).
d.        Program sekolah di rumah
Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Proram dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.
e.         Pendidikan inklusif
Sejalan dengan perkembangan layaan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusif. Model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan labelisasi anak dengan prinsip “Education for All”.Layanan pendidikan inklusif diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) orang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersenut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusif masih dalam tahap rintisan
f.         Panti (Griya) Rehabilitasi
Panti ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik.Program di panti lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam panti ini terbatas dalam hal :
·           Pengenalan diri
·           Sensorimotor dan persepsi
·           Motorik kasar dan ambulasi (pindah dari satu temapt ke tempat lain)
·           Kemampuan berbahasa dan dan komunikasi
·           Bina diri dan kemampuan social

6.        Pendidikan Anak Tunagrahita di Indonesia
Di Indonesia perkembangan pendidikan luar biasa atau pendidikan khusus dimulai sebelum masa kemerdekaan yaitu dengan berdirinya, untuk pertama kali, Lembaga Penyandang Cacat Tunanetra di Bandung pada tahun 1901. Pada 1927 dibuka sekolah bagi anak tunagrahita di kota yang sama dan pada saat yang hampir bersamaan didirikan sekolah khusus bagi anak tunarungu pada 1930 di Bandung juga.
Tujuh tahun setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah RI mengundang-undangkan yang pertama mengenai pendidikan khusus. Mengenai anak-anak yang mempunyai kelainan fisik atau mental , undang-undang itu menyebutkan pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk mereka yang membutuhkan ( pasal 6 ayat 2 ) dan untuk itu anak-anak tersebut ( pasal 8) yang mengatakan semua anak-anak yang sudah berumur 6 tahun dan 8 tahun berhak dan diwajibkan belajar disekolah sedikitnya 6 tahun dengan ini berlakunya undang-undang tersebut maka sekolah-sekolah baru yang khusus bagi anak-anak penyandang cacat.
Kemudian pada tahun 2003 pemerintah mengeluarkan undang- undang no 20 tentang system pendidikan nasional ( UUSPN ). Dalam undang-undang tersebut dikemukakan hal- hal yang erat hubungan dengan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan pendidikan khusus, beberapa diantaranya sebagai berikut :
a.         Bab IV ( pasal 5 ayat 1 ) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu baik yang memiliki kelainan fisik,emosionl,mental,intelektual atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
b.        Bab V bagian 11 Pendidikan khusus (pasal 32 ayat 1 ) Pendidikan khusus bagi peserta yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,emosional,mental,sosial atau memiliki potensi kecerdasan.
Dan untuk anak tunagrahita, di indonesia telah ada berbagai layanan pendidikan yang disediakan agar anak tunagrahita bisa mendapatkan pendidikan seperti halnya anak pada umumnya. Ada berbagai macam layanan pendidikan bagi anak tunagrahita saat ini, contohnya SLB C, sekolah inklusif dan masih banyak lagi. Di Indonesia pendidikan yang inklusif atau menuju inklusif pun terus digencarkan, setidaknya mulai 2001 pendidikan inklusi telah menjadi program Direktorat Pendidikan Luar Biasa yang bertugas untuk mengatur pelaksanaan pendidikan luar biasa tidak hanya di SLB namun juga di sekolah-sekolah reguler, termasuk salah satunya adalah membekali para guru di semua sekolah reguler dengan pengetahuan dan keterampilan layanan bagi anak berkebutuhan khusus. Beberapa sekolah pun baik itu SD, SMP, dan SMA reguler telah ditunjuk menjadi sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.Walaupun memang dalam pelaksanaannya masih terdapat hambatan.

C.           PEMBAHASAN
1.        Data Umum dan Pertanyaan Wawancara untuk Kepala Sekolah
Data Umum
Nama Informan                       : DANI KURNIADI
Status Informan                     : (*Kepala Sekolah/Guru/Orang tua)
Masa Kerja                              : **
Tanggal Wawancara                : 15 November 2013
Pertanyaan
1.      Bagiamana latar belakang terbentuknya sekolah kelas inklusi ini?
Pada tahun 1986 SDN kami merupakan pecahan dari SDN Cisalak 1 yang pada saat itu SDN Cisalak 1 muridnya sangat banyak, sehingga manajemen sekolahpun perlu dibagi 2 supaya lebih terkondisikan. Khusus SDN Kami mengapa membentuk kelas inklusi di karenakan kepedulian kami terhadap anak berkebutuhan khusus. Kemauan dan motivasi tinggi dari guru kami yang siap membantu anak anak yang mengalami Perhatian khusus atau BABK.
2.      Apa sajakah yang menjadi persyaratan bagi calon anak didik untuk masuk ke sekolah kelas inklusi ini?
Tidak ada seleksi untuk bisa masuk di sekolah kami, kalau memang ada yang membutuhkan bantuan kami untuk mendidik putra dan putrinya kami siap dan akan selalu membantu dengan sepenuh hati.
3.      Bagaimana sarana dan prasarananya?
Berhubung kelas inklusi yang ada di sekolah kami masih baru, sarana dan prasaranpun masih belum komplit. Teapi seiring berjalannya waktu dan proses insyaAllah untuk kedepannya sarana dan prasarana akan kami lengkapi.
4.      Bagaiaman latar belakang tenaga pengajar sekolah kelas inklusi ini?
Ada beberapa kategori yang melatarbekalangi tenaga pengajar yang ada di seklolah kami khususnya di kelas inklusi : S1 Kependidikan (PNS), Teknik, UT dan SMA (Non PNS). 
5.      Bagaiaman sistem pembagian kelas yang digunakan sekolah inklusi ini?
Untuk pembagian kelas di sekolah kami tidak ada yang dibeda bedakan, tetapi pada anak yang mengalami kebutuhan khusus seperti tunagrahita paling perhatiaanya yang agak di khususkan.
6.      Bagaimana proses atau tahap pelayanan yang dilakukan Sekolah kelas inklusi ini kepada anak tunagrahita?
Tergantung kebutuhan dari tingkat anak yang memiliki kebutuhan khusus. Kalau misalkan anak memiliki kebutuhan khusus berat maka pertemuan belajarnyapun padat, tetapi kalau misalkan hanya berkebutuhan ringan sedikitnya 2 kali pertemuan dalam satu minggu. 
7.      Bagaimana kerjasama antara sekolah kelas inkuiri dengan lembaga lain dalam hal minat dan bakat anak tunagrahita?
Sejauh ini ada beberapa kampus yang sering melakukan kegiatan observasi yaitu dari Uversitas Indonesia Jurusan Psikologi. Dalam kegiatan itu kami dan mahaiswa saling berbagi informasi mengenai kelas Inkuri ini. Dan yang saat ini mungkin dari Universitas Pendidikan Indonesia yang berkunjung ke sekolah kami, mudahan mudahan untuk kedepannya kamu dan mahasiswa bisa bekerja sama, tidak hanya sebatas observasi atau penelitian saja. 
8.      Sejauh mana guru memiliki peran untuk mendukung anak tunagrahita untuk mengembangkan minat dan bakatnya? 
Dalam bimbingan anak berkebutuhan khusus. Khususnya anak yang mengalami tunagrahita perhatian guru sangat memperhatikan sekali. Di sekolah anak di bimbing supaya setiap harinya anak yang memiliki tunagrahita tersebut dapat berkembang. Kemudian kalu di rumah kami sebagai pendidik terus berkomunikasi menanyakan bagaimana perkembangan peserta didik supaya tidak lepas kontrol. Ini demi kemajuan perkembangan peserta didik yang mengalami tunagrahita tersebut. 
 
2.        Data Umum dan Pertanyaan Wawancara Untuk Guru :
Data Umum
Nama Informan                       : SUPRIYONO
Status Informan                     : (*Kepala Sekolah/Guru/Orang tua)
Masa Kerja                              : **
Tanggal Wawancara                : 15 November 2013
Pertanyaan :
1.             Apa sajakah yang harus anda persiapkan sebelum proses belajar-mengajar di kelas yang terdapat anak tunagrahita?
Ada beberapa yang harus dipersiapkan secara khusus mengenai kelas tunagrahita ini :
a.      Kelas khusus yang luasnya tidak terlalu luas dengan kelas biasa. Ini bertujuan untuk membina dan mengembangkan anak yang mengalami tungrahita supaya lebih fokus dalam belajar
b.      RPP, seperti pada pembelajaran pada umumnya dikelas inklusi ini pun kami menggunakan rpp supaya pembelajaran bisa teraharah
c.       Media pembelajaran, ini dimaksudakn untuk memperjelas materi pembelajaran yang akan disampaikan. Mengenami media pembelajaran di kelas inklusi ini sangat diwajibkan untuk diadakan. 
2.             Metode apa sajakah yang digunakan dalam proses belajar-mengajar untuk anak tunagrahita?
Dalam memilih metode pada anak yang mengalami tunagarihita tergantung masalah apa yang dimiliki oleh anak tunagrahita tersebut. Misalanya anak tunagrahita yang memiliki kesulitan untuk membaca. Anak tunagrahita pada umumnya memiliki keterlambatan dalam bidang kognitif yakni dalam pembelajaran, anak tunagrahita memerlukan waktu yang banyak dibandingkan dengan anak yang lainnya, serta anak tunagrahita memerlukan dorongan untuk dapat memahami isi materi sesuai dengan kemampuannya, dan anak tunagrahita juga memerlukan metode khusus untuk mempelajari keterampilan membaca tersebut. Kegiatan membaca mencakup kegiatan menggunakan kesan sensori visual dan hasil interprestasi bersama-sama dengan latar belakang pengalaman untuk membangun makna. Membangun makna dari bacaan merupakan proses aktif dalam membaca. Pembaca tidak hanya menyerap makna dengan mengambil dari kata-kata yang dilihat dengan mata, tetapi mereka juga harus berinteraksi dengan teks melalui informasi yang ada dalam latar belakang pengetahuan yang dimiliki anak tersebut. Dengan mengunakan Metode Fonik untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan anak tunagrahita ringan. Dengan demikian metode fonik lebih sintesis dari pada analitis.
3.             Keterampilan apa sajakah yang di ajarkan kepada anak tunagrahita?
Dikelas sekolah inklusi kami sebenarnya banyak sekali keterampilan yang kami ajarkan disini, tergantung minat dan bakat anak tersebut. Teapi yang paling muncul di sekolah kelas inklusi kami yaitu keterampilan berolahraga. Hal ini dibuktikan dengan berbagai macam prestasi yang telah kami dapatkan, misalnya di tingkat kecamatan dan kabupaten.
4.             Apa setiap keterampilan yang iajarkan kepada anak tunagrahita sesuai dengan minat dan bakatnya?
Tentu saja! Sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa keterampilan yang kami ajarkan disesuaikan dengan minat dan bakat anak tersebut. Kalau misalkan anak tersbut memiliki keterampilan dalam olahraga seperti sepakbola maka kami akan mendukung dan memfasilitasi anak tersebut. Dan apabila anak memiliki keterampilan dibidang musik maka kami juga akan mengajarkannya.
5.             Bagaimana sarana dan prasarana yang mendukung anak tunagrahita mengembangkan minat dan bakatnya?
Kelas inklusi yang baru kami bentuk memang masih baru. Kalau berbicara sarana dan prasaran memang sebagian ada tetapi tidak begitu lengkap. Hal itu tidaka menjadi penghalang buat kami untuk terus melaksanakan kelas inklusi ini. Yang terpenting kami bisa membantu orang yang memang membutuhkan bantuan kami.
6.             Selama ini sejauh mana peran anda dalam mengembangkan minat dan bakat anak tunagrahita?
Disekolah memang kami sangat mengontrol sekali perkembangan anak didik kami. Tetapi ketika dirumah kami juga terus berkoordiinasi dengan orang tua supaya tahu perkembangan anak tersbut, supaya tidak lepas kontrol.
7.             Bagaimana hambatan atau kesulitan bagi guru untuk melatih ataupun mengembangkan minat dan bakat anak tunagrahita?
Hambatan dan kesulitan itu pasti ada, apalagi pada anak yang memiliki tunagrahita. Dalam proses pembelajaran kelas inklusi kususnya tunagrahita sangat tergantung sekali pada media pembelajaran yang kami butuhkan. Sedangkan dikelas kami hal tersebut sangatlah terbatas. 
8.             Bagaimana kerjasama ataupun komunikasi antara guru dan orang tua anak tunagrahita dalam mengembangkan potensi yang di miliki anak tunagrahita?
Komunkasi antara guru dengan orang tua sampai saat ini berjalan dengan baik. Alhamdulillah orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah kami mau berkerja sama dengan baik. Hal ini terbukti bahwa orang tua terus melaporkan perkembangan anaknya di rumah begitupun kami sebagai guru terus melaporkan perkembangannya kepada orang tua murid.

3.        Data Umum dan Pertanyaan Wawancara Untuk Orang Tua :
Data Umum
Nama Informan                       : NUROSIDAH
Status Informan                     : (*guru/orang tua)
Tanggal Wawancara                : 15 November 2013
Pertanyaan :
1.             Apakah ada gejala khusus sejak dini dari anak ibu/bapak sehingga dikatakan anak tunagrahita?
Semenjak umur 5 bulan agus mengalami kejang kejang yang cukup serius, kemudian dibawa ke rumah sakit-rumah sakit terdekat di sekitar rumahnya kondisi tidak sembuh sembuh. Tidak hanya itu agus juga mengalami batuk batuk yang tidak biasa.
2.             Apa yang anda ketahui tentang SLB/Kelas Inklusi ini?
Awalnya saya tahu informasi mengenai sekolah inklusi ini dari teman saya yaitu Bapak Supriyono yang merupakan guru di sekolah ini. Sebelumnya memang saya mencari tahu kesana kemari untuk menyekolahkan anak saya kemudian ada kabar dari Pak Supriyono bahwa sekolahnya mebuka kelas inklusi yang bersedia membantu saya untuk dapat mendidik anak saya yang mengalami tunagrahita untuk sekolah di sekolah Pak Supriyono. Sayapun langsung menyekolahkan anak saya di sekolah tersebut smapai sekarang anak saya sudah mengalami perkembangan yang cukup baik. 
3.             Apa yang menjadi motivasi anda untuk menyekolahkan salah satu anggota keluarga anda di SLB ini?
Semua orang tua pasti menginginkan anaknya hidup normal seperti anak anak pada umumnya. Ditambah lagu Agus merupakan anak laki laki yang suatu saat bakal memiliki tanggung jawab. Dimanapun agus bersekolah yang pasti saya sebagai orang tua ingin agus sembuh. Dan agus sendiri sangat bersemangat sekali untuk sekolah. Itulah yang menjadi motivasi buat saya untuk menyekolahkan agus.
4.             Bagaimana latar belakang yang dimiliki anak tunagrahita bila di rumah?
Agus bila di rumah sama seperti anak biasa. Dia bisa bermain bola, bermain alat musik bahkan dia bisa berenang asalakn ada teman yang mengajak agus untuk melakukan kegiatan tersebut.
5.             Bagaimana hubungan keluarga yang terjalin bila di rumah?
Alhamdulillah hubungan antar anggota keluarga bila dirumah baik baik saja, khsususnya pada agus dia penurut kalau di rumah. 
6.             Apa ada bentuk perhatian atau didikan tersendiri bagi anak tunagrahita bila di rumah?
Tidak ada, sama seperti anak biasa pada umumnya.
7.             Apa anda mengetahui hobi ataupun minat yang dimiliki anak anda?
Ya! Saya sangat mengetahui sekali. Agus sangat menyukai olahraga khususnya bermain sepak bola. Sesuai dengan yang tadi saya jelaskan asalakan ada temannya yang mengajak. Kalau misalkan tidak ada temannya agus tidak mau. 
8.             Apa anda senang dengan kelebihan ataupun bakat dan minat yang dimiliki anak anda?
Tentu saya sangat senang. Apapun minat dan bakat yang anak saya sukaipasti saya akan dukung. Bahkan saya sudah menyediakan alat alat musik di rumah karena agus suka sekali yang namanya musik.
9.             Sejauh mana peran anda untuk mendukung dan mengembangkan minat dan bakat tersebut?
Tidak dapat di ukur karena saya sebagai orang tua wajib memperhatikan bagaimanapun kondisi anak saya. Karena itu amanat dari Allah Swt yang harus saya lakukan.
10.         Bagaimana hubungan anda dengan guru untuk terus melatih dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak anda?
Hubungan saya mengenai perkembangan agus dengan Gurunya berjalan dengan baik. Hal ini tentu harus di jaga. Karena komunikasi antar saya dengan guru agus di sekolah harus tetap berjalan hatl ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan agus. 

4.        Identitas dan Informasi Anak yang mengalami Tunagrahita
a.        Identitas Anak Tunagrahita
Nama                           : Agus Kurniawan
Jenis kelamin               : Laki – laki
TTL                             : Depok, 11 Agustus 2000
Agama                         : Islam
Pendidikan                  : kelas III SD
Jenis kelainan              : Tunagrahita
Anak urutan ke           : 1 dari 2 bersaudara
Orang tua
Nama Ayah                 : -
Usia                             : -
Agama                         : -
Pendidikan                  : -
Pekerjaan                     :
Alamat                        :
Nama Ibu                    : Nurosidah
Usia                             :
Agama                         : Islam
Pendidikan                  : -
Pekerjaan                     : Guru
Alamat                        : Depok

b.        Gejala yang nampak Pada Agus Kurniawan yang mengalami Tunagrahita
Sebelumnya Agus Kurniawan merupakan anak yang mengalami tunagrahita cukup berat. Tetapi sesuai dengan informasi yang kami peroleh sewaktu melakukan observasi pada tangal 15 November 2013 bahwa agus sudah tidak lagi di kategorikan sebagai anak tunagrahita berat.  Di karenakan anak tersebut sudah menjalani pendidikan di sekolah inklusi ini selama 3 bulan berjalan. Dari proses penendidikan tersebut, Agus Kurniawan sudah mengalami peningkatan yang signifikan. Secara langsung sesuai dengan observasi yang kami laksanakan bahwa anak ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Ciri- ciri fisik yang ada pada anak ini adalah wajahnya seperti anak mongoloid/kembar sedunia, tetapi bentuk kepala normal seperti biasa. Perkembangan sosial emosionalnya masih kurang stabil. Ia mudah marah apabila diganggu oleh temannya dan juga orang asing. Tetapi ia tidak pernah memukul/mencubit teman sekolahnya. Di sekolah, anak ini agak pemalu. Terutama jika bertemu dengan orang asing/orang yang baru dikenalnya. Ia akan menundukkan kepalanya saat di ajak berbicara oleh orang asing. Bahkan ketika ia di ajak untuk berkomunikasi dengan orang baru pasti ia akan menghindar dengan cara membuat suatu alasan untuk dapat menghindar dari orang asing. Misalnya ketika ia di ajak untuk berkenalan dengan orang baru pasti ia akan melakukan kegiatan menghindar dengan alasan seperti “saya sakit perut, mau ke toilet” padahal ia tidak ke toilet malah bersembunyi di belakang pintu toilet dan adalagi mislanya ia beralasan “sakit kepala” padahal ia tidak sakit dan masih banyak alasan alasan lainnya lagi untuk dia dapat menghindar dari orang lain.  Dalam kesehariannya, ia berbicara dengan bahasa Indonesia. Apabila di ajak bercakap- cakap, ia hanya akan menjawab seperlunya saja, sebatas satu atau dua kata. Tetapi dalam pengucapannya cukup jelas. Bahkan ia mampu mengkritik sesuatu yang ada di sekitarnya. Apapun yang ia lihat pastia ia komentari dan dari segi pengucapan kata sangat jelas sekali. Mata pelajaran yang paling ia sukai adalah olahraga dan musik. Ia pandai sekali bermain bola dan futsal. Bahkan sesuai dengan informasi dari hasil wawancara kami dengan  Ibu Nurosidah (Ibunda Agus) bahwa agus sangat suka sekali bermain futsal asalkan ada temannya yang mengajak untuk bermain futsal. Di lihat dari segi motorik memang tidak sepandai orang orang normal, tetapi agus ini sangat bersemangat sekali kalau sedang bermain futsal. Dan selain itu juga agus bisa bermain musik seperti piano. Dia dapat memainkan sedikitnya 4 lagu dengan menggunakan piano. Tidak hanya piano, Ibunda Agus (Ibu Nurosidah) menyediakan gitar di rumahnya untuk di pelajari tetapi sayangnya tidak ada orang yang di rumah dapat mengajarakn gitar ke Agus. Dapat kami simpulkan bahwa secara keseluruhan anak yang kami observasi di sekolah inklusi ini merupakan anak yang mengalami tunagrahita ringan walaupun sebelumnya memiliki tunagrahita berat.

c.         Karakteristik dan Masalah Perkembangan Anak Tuna Grahita
Pengamatan
No.
Tingkah Laku yang Diamati
Hasil Pengamatan
Keterangan
Ya
Tidak
Siswa/Anak Tuna Grahita/Subjek




















1.
Apakah bisa menulis?


2.
Apakah bisa membaca?


3.
Apa merasa senang sekolah di sini?


4.
Apakah memiliki banyak teman?


5.
Apakah sering marah atau menangis karena alasan yang tidak jelas?


6.
Apakah bisa melakukan segala sesuatu dengan mandiri?


7.
Apakah suka bermain dengan temannya?



Apakah suka menyendiri?



Apakah suka menghindar dari tatapan mata orang lain?



Apakah emosinya tidak stabil?



Apakah hiperaktif?



Apakah merespon ketika namanya di panggil?



Apakah ekspresi wajahnya datar?



15.
Apakah sering menunjukkan perilaku yang terlihat aneh atau tidak lazim, contoh mengepakkan tangan, mengayun-ayun badan, loncat-loncat, berlari-lari tanpa henti, dan sebagainya.


Guru
1.
Guru dapat menenangkan anak tunagrahita yang sedang bersikap agresif atau membuat kekacauan di sekolah


2.
Guru membimbing anak tuna grahita ketika pembelajaran berlangsung agar anak memperhatikan.


3.
Guru membimbing anak tunagrahita ketika pembelajaran berlangsung agar anak memahami pelajaran.


4.
Guru memberikan penguatan terhadap anak tunagrahita yang tingkah laku dan emosinya tidak terkontrol


Teman
1.
Menghampiri anak tuna grahita dan bermain bersama ketika istirahat di sekolah


2.
Sering terlibat perkelahian


3.
Mengobrol atau berinteraksi dengan temannya saat di kelasa ataupun saat istirahat.


Gedung/ RuangKelas
1.
Warna kelas yang mencolok


2.
Banyak terdapat mainan atau benda-benda yang sering di gunakan oleh anak tunagrahita


3.
Terdapat benda-benda yang dapat digunakan untuk melukai orang lain di dalam kelas atau di luar kelas


Description: hasil 1.jpgDescription: hasil 2.jpg







d.        Description: 1384652372862.jpgFoto-foto hasil Observasi
Description: DSC_0288.jpg





Description: DSC_0295.jpgDescription: DSC_0290.jpg














D.      KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah di uraikan, dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
a.         Anak Tunagrahita tidak sama dengan Anak normal biasa, jadi butuh pengajaran khusus bagi anak Tunagrahita
b.        Anak Tunagrahita memiliki IQ yang lebih rendah di bamdimgkan dengan Anak normal lainnya
c.         Anak Tunagrahita mengalami kesulitan dalam pergaulan dan mengendalikan diri, setelah tamat sekolah ia belum siap untuk bekerja, sedangkan ia tidak mungkin untuk melanjutkan pendidikan. Akibatnya ia hanya tinggal di rumah yang pada akhirnya ia merasa frustasi.
d.        Anak Tunagrahita memiliki masalah dalam kehidupan sehari-hari, masalah kesulitan belajar, masalah penyesuaian diri, masalah penyaluran ke tempat kerja.

















E.            REFERENCE
Farid, A. (2013, januari 11). Abraham Farid. Retrieved november 20, 2013, from pendidikan-khusus-bagi-anak-tunagrahita.htm: http://farid-plbuns2012.blogspot.com/2013/01/pendidikan-khusus-bagi-anak-tunagrahita.html
Lala. (2011, april 26). Lala. Retrieved november 20, 2013, from pengertian-tunagrahita: http://tunagrahita.com/2011/04/pengertian-tunagrahita/
Ratri, A. (2012, november 18). Anggraeni Ratri. Retrieved november 20, 2013, from faktor-penyebab-tunagrahita-ada.html: http://ratri-plbuns12.blogspot.com/2012/11/faktor-penyebab-tunagrahita-ada.html
Rianto, H. (2012, oktober 16). Hambali Rianto. Retrieved november 19, 2013, from pembinaan-anak-tuna-grahita.html: http://manesa08penjas.blogspot.com/2012/10/pembinaan-anak-tuna-grahita.html
Sari, R. M. (2012, mei 2). Revi Mayang Sari. Retrieved november 20, 2013, from karya-tulis-anak-tunagrahita.html: http://revisari13.blogspot.com/2012/05/karya-tulis-anak-tunagrahita.html
Somantri, T. S. (2006). psikologi anak luar biasa. Bandung: Refika Aditama.
wikipedia. (2013, november 4). wikipedia. Retrieved november 20, 2013, from wiki/Tunagrahita: http://id.wikipedia.org/wiki/Tunagrahita





[1] Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus
[2] Mahasiswa Semester 5 Kelas IPS Program Studi S-1 PGSD UPI Kampus Purwakarta Tahun 2013-2014